Manfaat Musik Klasik VS Murotal Untuk Ibu Hamil! Lebih Bagus Mana?

Banyak pertanyaan mengenai lebih utama mana memperdengarkan janin dengan musik klasik atau murottal Al-Qur’an? Bagi keluarga Muslim tentu  saja tidak sulit menjawabnya. Tapi mengapa? Selain bagian dari perintah agama, penelitian juga membuktikan bahwa bacaan Al-Qur’an lebih utama dibanding musik klasik dalam pengaruhnya terhadap perkembangan kecerdasan anak.

Tidak asing bagi masyarakat Eropa bahwa memperdengarkan musik klasik pada janin katanya bisa membuat otak janin menjadi cerdas. Setidaknya itu di dasarkan hasil penelitian tahun 1993 yang diterbitkan Jurnal Nature, bahwa bayi yang diperdengarkan musik klasik membuat gelombang otaknya akan lebih besar ketimbang yang tidak. “Hal ini kemudian menyetimulasi kecerdasan anak,” jelas dr. Prita Kusumaningsih, SpOG, dokter spesialis kandungan di Rumah Sakit Umum Al-Fauzan, Jakarta.

Prita menjelaskan bahwa kenyamanan dan ketenangan sang ibu yang mendengarkan musik memang berdampak positif pada janin. Ibu dalam kondisi tenang saat mengandung bisa berdampak positif pada perkembangan otak anak.

Ketika usia kehamilan antara minggu 24-28, janin akan mengalami fase dimana indera pendengaran yang mulai berfungsi. Cairan ketuban menjadi penghantar gelombang suara bagi janin, sehingga rangsangan suara dari sekeliling maupun dari luar rahim dapat didengarnya.

“Pada usia ini sebaiknya ada interaksi antara janin dan calon ibunya, supaya fungsi pendengaran janin optimal,” jelasnya. Prita menegaskan, interaksi positif yang terjalin antara janin dan orang yang mengajaknya bicara merupakan stimulan yang baik untuk perkembangan otaknya. Karena dalam fase ini, sang ibu harus memperdengarkan suara yang baik kepada janinnya.

“Apa yang ia dengarkan akan membantu merangsang perkembangan otak dan membentuk kepribadiannya kelak,” jelas dokter Prita. Menurutnya dalam fase ini hendaknya setiap ibu hamil dapat menjaga janin di lingkungan orang yang baik, penuh cinta dan kasih sayang, serta dijauhkan dari perkataan kotor, bentakan dan kegaduhan.

Prita menekankan, suara yang baik dan berkualitas akan membuat sang bayi tenang. Jika musik klasik bermanfaat untuk perkembangan otak, tentu ada suara yang berkualitas dari itu, yaitu bacaan Al-Qur’an, pasti juga bermanfaat bagi otak anak. “Ibu yang dapat memperdengarkan secara khusus kepada janin, suara-suara yang baik dan berkualitas,” jelasnya.

Mengapa Murottal?

Dalam hal ini, ia menyarankan untuk memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Sebab berdasarkan pengamatannya, bayi yang sejak di kandungan diperdengarkan Al-Qur’an akan lebih mudah menghapal. Ini artinya si bayi tersebut memiliki kecerdasan dalam menghafal dibanding bayi yang tidak diperdengarkan murottal ketika masih berada dalam kandungan ibunya.

Dia menjelaskan, banyak komunitas ibu hamil penghapal Al-Qur’an yang ada di kota-kota besar melahirkan putra-putri yang rata-rata juga menjadi penghapal Al-Qur’an.

Prita menjelaskan, janin sejak usia 17 minggu dalam kandungan sudah dapat mulai mendengar suara dari luar rahim. Dan pada saat usia kandungan telah menginjak usia 20 minggu kandungan, janin sudah mampu mengenali suara ibunya dan merespon suara yang ada.

Karena itu lanjutnya, sebaiknya orangtua sering memperdengarkan bacaan Al-Qur’an atau memperdengarkan murottal kepada janin anaknya supaya ketika lahir sudah familiar dengan Al-Qur’an.

Salahsatu bukti dan berpengaruhnya bacaan Al-Qur’an yang diperdengarkan bisa kita kita lihat banyak keluarga yang anaknya hafal Al-Qur’an melalui pendengarannya.

“Ini terjadi ketika sang ibu terbiasa memperdengarkan bacaan Al-Qur’an sejak anak berada dalam kandungan”. Tegas Prita.

Di dalam ilmu psikologi perkembangan anak dikatakan bahwa indera sensorik pertama perkembangan pada bayi adalah indera pendengaran. Setelah itu baru indera penglihatan dan diiringi dengan pemahaman (akal).

“Mendengar suara Al-Qur’an juga dijamin mendapatkan bonus besar dari Allah Subahanu wa ta’ala berupa pahala,” ujar penulis buku “Membentangkan Surga di Rahim Bunda,” ini.

Menurut Prita, mendengarkan bacaan Al-Qur’an untuk bayi dalam kandungan akan menghasilkan ikatan dengan bayi sejak sebelum lahir. Ketika lahir, bayipun akan mudah ditenangkan dengan bacaan Al-Qur’an. Memang lebih afdhal bacaan itu berasal dari ibunya sendiri. Namun jika tidak, bisa juga menggunakan tape atau sejenisnya.

Ritme Musik Seirama dengan Tajwid

Menurut hasil penelitian ilmiah yang pernah dilakukan oleh Dr. Rene Van De Carr, pakar stimulasi prenatal dari Universitas Prenatal California Amerika Serikat, bahwa bayi dalam kandungan ibunya akan bernafas dengan ketukan musik.

“Suara dengan ritme yang baik akan membuat janin tenang dalam kandungan,” jelas dr. Damayanti, SpOG, dokter spesialis kandungan sekaligus direktur RSIA Cempaka Putih Permata Surabaya.

Menurut dr. Candra, ritme musik klasik dikenal memiliki intonasi yang bagus sehingga baik diperdengarkan kepada janin.

“Tentu dalam hal ini jika ada suara yang memiliki intonasi yang bagus akan membuat janin ibu tenteram,”tambahnya.

Penjelasan dr. Chandra ini kemudian ditimpali oleh Dr. Ahamad Fauzi Tijani, Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Jawa Timur, bahwa Al-Qur’an memiliki intonasi yang bagus.

“Dalam kaitan bacaan Al-Qur’an ada namanya Ilmu Tajwid,” jelas pimpinan pondok pesantren Al-Amin, Prenduan, Madura ini.

Menurutnya, Tajwid merupakan pengaturan intonasi suara dalam bacaan Al-Qur’an. Dengan intonasi yang teratur tentu akan menghasilkan ritme yang santai.

“Karenanya membaca Al-Qur’an untuk janin harus dengan Tajwid yang benar supaya berpengaruh positif pada janin,” tegas ahli hadits ini.

Dr. Fauzi menegaskan persoalan menentramkan, bacaan Al-Qur’an jelas menentramkan daripada musik klasik. Panjang pendeknya bacaan  Al-Qur’an memberikan stimulan kepada janin.

Ia kemudian menyitir ayat Al-Qur’an yang artinya, “Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du:28).

Dalam hal ini ia menegaskan, setiap ibu muslimah yang sedang hamil hendaknya memperbanyak mendengarkan dan membaca Al-Qur’an agar hatinya tenang dan tenteram. Kondisi seperti ini akan berpengaruh pada perkembangan positif pada janin.

Bahkan menurutnya, kalau bisa tidak hanya dibacakan lafadz Al-Qur’an saja, tetapi juga menceritakan isi kandungannya dengan pemaknaan intonasi dari lakon yang dikisahkan.

“Jika semua muslimah yang sedang mengandung paham betul makna dari ayat Allah tersebut, bukan tidak mungkin akan lahir bayi-bayi yang hebat.” Pungkas Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini. (bah/sus).

Murrottal Mencerdaskan IQ, EQ dan SQ Bayi

Dari hasil penelitian memang suara tidak hanya berpengaruh pada janin bayi, tetapi juga berpengaruh pada anak dan orang dewasa. Suara musik misalnya membuat detak jantung bayi menjadi teratur. Malah untuk orang dewasa akan menimbulkan rasa cinta. Namun, arah cintanya tidak jelas. Sedangkan Al-Qur’an, selain berpengaruh positif pada intelektual juga sekaligus menimbulkan rasa cinta kepada Tuhan Maha Pencipta.

“Sebagai Muslim kita pilih Al-Qur’an daripada musik klasik,” kata Dr. Muhlis Hanafi MA, pakar tafsir dari UIN Hidayatullah Jakarta.

Hasil penelitian yang dilakukan dr. Nurhayati, seorang dokter di Malaysia menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur’an memberikan pengaruh besar jika diperdengarkan kepada bayi. Menurut penelitiannya, bayi yang berusia 48 jam kepadanya diperdengarkan ayat-ayat  Al-Qur’an dari tape recorder menunjukkan respon tersenyum dan menjadi lebih tenang.

Memang dalam musik terkandung komposisi not balok secara kompleks dan harmonis, yang secara psikologis merupakan jembatan otak kiri dan otak kanan, yang out-putnya berupa peningkatan daya tangkap (konsentrasi).

Ternyata  Al-Qur’an demikian, malah lebih baik. Ketika diperdengarkan dengan tepat dan benar, dalam artian sesuai tajwid dan makhraj, Al-Qur’an mampu merangsang syaraf-syaraf otak pada anak, “Karenanya meguasai ilmu tajwid itu penting,”tandasnya.

Pengaruh bacaan terhadap psikologis dan fisiologis seseorang sudah terbukti positif. Menurut penelitian yang dilakukan Dr. Ahmad Al-Qadhi mengenai ayat-ayat Al-Qur’an terhadap kondisi psikologis dan fisiologis manusia, Al-Qur’an mampu menciptakan ketenangan batin (psikologis) dan mereduksi ketegangan saraf (fisiologis).

Penelitian itu dilakukan terhadap lima sukarelawan non-muslim berusia antara 17-40 tahun dengan menggunakan alat ukur stres jenis MEDAQ 2002 (Medical Data Quetient) yang dilengkapi dengan software dan sistem detektor elektronik hasil pengembangan Pusat Kedokteran Universitas Boston, AS.

Sebelum penelitian dimulai, setiap responden dipasangi empat jarum elektrik ditubuh masing-masing yang dikoneksikan ke mesin pengukur berbasis komputer. Ini dilakukan untuk mendeteksi gelombang elektromagnetik dan mengukur reaksi urat syaraf reflektif pada masing-masing organ tubuh responden.

Pada ujicoba pertama, kelima responden diperdengarkan 85 kali ayat Al-Qur’an secara mujawwad (tanpa lagu). Pada percobaan kedua, 85 kali diperdengarkan kalimat-kalimat biasa berbahasa Arab secara mujawwad. Pada percobaan ketiga, sebanyak 40 kali responden dibiarkan duduk membisu sambil menutup mata, tanpa dibacakan apa-apa.

Hasilnya, 65 persen responden yang mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an mendapat ketenangan batin dan ketegangan syarafnya turun hingga 97 persen.

Lebih dari itu, Dr. Ahmad Al-Qadhi menyatakan bahwa ternyata membaca Al-Qur’an selepas Maghrib dan Subuh dapat meningkatkan kecerdasan otak sampai 80 persen karena waktu-waktu tersebut terdapat pergantian daru siang ke malam dan dari malam ke siang hari.

Kesimpulan hasil ujicoba tersebut diperkuat lagi oleh penelitian Muhammad Salim yang dipubulikasikan Universitas Boston. Obyek penelitian adalah lima orang sukarelawan yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Kelima orang tersebut sama sekali tidak mengerti bahasa arab dan mereka tidak diberitahu bahwa yang akan diperdengarkan adalah Al-Qur’an.

Penelitian yang dilakukan sebanyak 210 kali ini terbagi menjadi dua sesi, yakni membacakan  Al-Qur’an dengan tartil dan membacakan tulisan bahasa Arab yang bukan dari Al-Qur’an. Kesimpulannya, responden mendapatkan ketenangan sampi 65 persen ketika mendengar bacaan Al-Qur’an dan mendapatkan ketenengan hanya 35 persen ketika mendengarkan bahasa Arab yang bukan merupakan ayat Al-Qur’an.

Menurut doktor tafsir dari Universitas Al-Azhar Mesir, Dr. Muchlis, makin baik dan benar bacaan itu, termasuk lagunya, makin baik hasilnya. Tujuannya tentu saja bukan mengajak memahami substansi atau makna kandungan ayat-ayat  Al-Qur’an, tetapi memperkuat daya tangkap (konsentrasi) otak bayi. Sehingga akan mudahlah ia menghafal ayat-ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ketika sudah memasuki masa bayi.

Dr. Muchlis mengingatkan bahwa neoron pada otak bayi yang baru lahir itu umumnya seperti “disket kosong siap pakai”. Ia siap dianyam menjadi jalinan akal melalui masukan berbagai fenomena dari kehidupannya. Pada gilirannya terciptalah sirkuit dengan wawasan tertentu. Sedangkan anyaman tersebut akan semakin mudah terbentuk pada waktu dini. Neuron yang telah teranyam diantaranya untuk mengatur faktor yang menunjang kehidupan dasar seperti detak jantung dan bernafas. Sementara neuron lain menanti untuk dianyam, sehingga bisa membantu anak menerjemahkan dan beraksi dengan dunia luar.

“Jika mendengarkan musik klasik dapat mempengaruhi kecerdasan intelektual (IQ) bayi, bacaan Al-Qur’an lebih dari itu. Selain mempengaruhi IQ dan EQ, juga mempengaruhi kecerdasan spiritual (SQ),” pangkasnya. (bah) Majalah Alfalah

Salam www.JamuKu.com Toko Jamu Herbal Terpercaya