Inspirasi Sukses Bisnis: Belajar Dari Lee Kuan Yew

Dalam bukunya From The Third World to Fist, Lee Kuan Yew bercerita panjang lebar tentang bagaimana membangun singapura dari nol. Buku setebal lebih dari 700 halaman ini manarik sekali karena berisi pengalaman menyulap pulau kecil Singapura menjadi sebuah Negara yang terkemuka dalam percaturan pergaulan antar bangsa. Negeri dengan luas dan jumlah penduduk seperti kota Surabaya ini tampil terdepan dalam berbagai bidang persaingan antar bangsa.

Beberapa catatan menarik tentang prestasi Singapura saat ini;pendapatan penduduknya per kepala perbulan sekitar 30 juta alias 15 kalinya Indonesia. Changi menjadi salahsatu bandara tersibuk di dunia mengalahkan Sukarno Hatta Jakarta dan KLIA Malaysia, rumah sakitnya menjadi rujukan berobat masyarakat dari luar negerinya, perusahaan-perusahaan nasionalnya terus menerus berekspansi ke luar negeri termasuk ke Indonesia, dan masih banyak lagi.

Sebagaimana diketahui Lee adalah founding father Singapura. Ia memerdekakan Singapura dari Malaysia tahun 1965. Ada yang sangat menonjol dari sepak terjang pemimpin seangkatan Pak Harto ini. Salahsatunya adalah kemampuannya bernegosiasi menyelesaikan berbagai permasalahan penting pembangunan negerinya. Sebagai contoh, negeri ini merdeka dari Malaysia. Dalam kacamata Malaysia, tentu tidak mudah merelakan begitu saja wilayahnya lepas dan menjadi negara sendiri. Suatu perasaan yang sangat wajar seperti ketika kita kehilangan Timor Timur dan merdeka menjadi negara sendiri.

Dalam kondisi seperti itu, Singapura ternyata masih bisa mendapatkan fasilitas yang sangat vital dari Malaysia. Dua hal penting; pasokan air bersih dan pengawalan tentara. Sebelum kemerdekaannya, Singapura mendapatkan pasokan air bersih dari semenanjung Malaysia dan pasokan ini tidak terganggu sedikitpun dengan kemerdekaan Singapura sampai sekarang. Saat awal kemerdekaan di mana Singapura belum memiliki tentara, pengawalan pimpinan Negara tetap dilakukan oleh tentara Malaysia. Keduanya tidak mungkin diperoleh kecuali melalui kemampuan negosiasi Lee yang luarbiasa.

Simak Juga  Hammer of Thor Palsu Paling Laris: Sebuah Renungan Buat Pembeli dan Penjual

*******

Ada sebuah pertanyaan menarik dari pembaca majalah ini. Beserta 5 saudara kandungnya, Bu Legowati memiliki harta warisan berupa tanah seluas sekitar 1,2 hektar di luar kota. Secara detail ia menjelaskan bahwa harta warisan tersebut terdiri dari bangunan permanen yang letaknya terpisah-pisah, tanah, sawah, kolam ikan dan kebun yang dipagari tembok keliling. Akses satu-satunya ke lahan tersebut adalah melalui jalan makadam yang juga menjadi satu dengan akses sebuah pondok pesantren, jalan akses satu-satunya tersebut ditutup.

Pembaca majalah kita ini juga memberikan info pendapatan yang diperoleh dari panen kebun dan penyewaan lahan sawah tidak cukup untuk menutup biaya operasional dan pembiayaan lahan. Pembaca ini menanyakan bagaimana cara mengelola lahan tersebut agar pendapatannya cukup untuk menutup biaya-biaya pengelolaan. Harapannya adalah ia bersama saudara-saudaranya tidak perlu menanggung biaya perawatan lahan warisan itu.

Permasalah Bu Legowati ini ini membutuhkan dua hal; masalah pengelolaan lahan dan jalan akses. Berdasarkan informasi yang diberikan, luas lahan terlalu kecil untuk dikelola murni sebagai lahan pertanian atau kolam. Sangat logis bila hasilnya tidak cukup untuk membayar biaya perawatannya. Maka, dibutuhkan adanya nilai tambah. Sekedar contoh, lahan tersebut bisa dikembangkan menjadi sebuah restoran berkonsep alam lengkap dengan sarana wisatanya. Kebun, sawah, dan kolam akan sangat menunjang suasana alam.

Tetapi, konsep restoran alam akan sangat terkendala jalan akses yang sering tertutup oleh kegiatan pesantren. Dalam kondisi seperti ini, Bu Legowati bisa belajar dari kisah Lee Kwan Yew yang saya tulis. Singapura yang bekas wilayah Malaysia ternyata sukses menegosiasikan kepentingan-nya. Kebutuhan air bersih tetap dipasok dari Malaysia. Bahkan, pengawalan kepala Negara pun tetap menggunakan tentara Malaysia. Lobi seperti ini tentu jauh lebih rumit daripada melobi pesantren untuk terbukanya akses jalan masuk tanpa terganggu kegiatan pesantren.

Simak Juga  Ejakulasi Dini, 6 Penyebab Utama dan Cara Ampuh Mengatasinya, 99% Berhasil!

Bagaiamana caranya? yang namanya negosiasi pasti mengandung unsur-unsur saling member kompensasi. Misalnya saja, pesantren diberi saham atas resto yang akan didirikan. Atau bisa juga pesantren diberi hasil sekian persen dari omzet restoran. Atau juga bisa membangun sarana di pesantren yang cukup memadai, sehingga jika ada aktivitas tidak perlu menutup jalan umum. Belajar dari Lee Kwan Yew, bisa khan?

Iman Supriyono, Startegic Finance Spesialist di SNF Consulting, www.snfconsulting.com via Yatim Mandiri