4 Cara Mudah Menghilangkan Stress Berat!99% Ampuh

Berbicara tentang stress, maka setiap kita pernah mengalami stress, tetapi satu hal yang membedakan diantara kita adalah kemampuan kita dalam mengatasi kondisi stress itu sendiri. Permasalahan yang muncul berkaitan dengan stress, pada prinsipnya hanya ada dua dan semua orang sama, yaitu dua masalah yang fundamental dalam kehidupan kita yaitu masalah materiil dan spirituil (jiwa, mental dan pikiran).

Masalah materiil umumnya berangkat dari masalah ekonomi. Masalah ekonomi menjadi masalah umum yang menjadi gejala terjadinya stress. Memang, ekonomi menjadi kebutuhan primer setiap kita. Namun jika kita memiliki satu keyakinan bahwa Tuhan sudah menjamin rejeki kita. Maka stress akibat keadaan ekonomi tidak akan menghinggapi diri kita.

Tugas kita hanya berikhtiar (usaha) dan Tuhan yang menentukan. Mungkin ini hanya sebuah teori, namun faktanya jika kita “Mau” sekali lagi “Mau” berusaha, kami yakinkan pasti Anda akan memperoleh hasil. Berusahanya sampai kapan? ya sampai berhasil donk.

Bukankah bumi Tuhan ini begitu luas, Jika bumi ini hanya terlihat selebar daun kelor di mata Anda, Silahkan Anda naik keatas pohon yang paling tinggi. Tapi bukan untuk menjatuhkan diri dari atas pohon ya?. So Anda akan melihat betapa luasnya hamparan “bumi ini”, dan kami yakinkan bahwa begitu luasnya bumi Tuhan ini nampak dari atas pohon. Artinya, di luar sana begitu banyak lapangan pekerjaan dan peluang usaha yang menanti, masalahnya sekali lagi mau apa ndak?.

Masalah kedua berkaitan dengan spirituil atau kejiwaan. Wah, kalau masalah ini banyak sekali, mulai remaja sampai usia senja, kayaknya semua pernah mengalaminya. “Kami” mengacungkan jari telunjuk duluan, maksud-nya, ini juga pernah kami alami. Permasalahan seputar kejiwaan banyak sekali ragamnya. Mulai dari masalah pribadi maupun dengan lingkungan, baik dengan kawan, pekerjaan, rumah tangga, sosial dan lain lain. Apapun masalah kejiwaan yang menimpa kita, akarnya hanya satu, dari “hati dan pikiran”. Maka-nya ada satu kaidah “jika hati dan pikiran kita baik atau damai maka seluruh anggota tubuh kita ikut baik dan damai”.

Jujur, kami bukan seorang psikolog yang memahami tentang definisi dan pengertian stress secara ilmiah, Anda bisa searching tentang definisi stress secara teori konseptual di Wikipedia. Namun satu hal, diluar pengertian teori dan konsep tentang stress, bahwa rasa stress di hati dan pikiran kita “sama” rasanya, gak enak dan neg di pikiran.

4 Tips Menghilangkan Stress

4 tips yang coba kami share ke Anda lebih kepada cara pendekatan keyakinan dan keimanan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengingat, jika hanya menggunakan cara cara biasa alias cara manusiawi, Kami pastikan bakal tidak berhasil alias zonk total. Adapun 4 tips menghilangkan stress yaitu:

Pertama, Tawakal. Tawakal merupakan kondisi “kepasrahan” total kita kepada Tuhan. Namun, tunggu dulu, pemaknaan tawakal jangan diartikan sesuatu yang negatif. Makna tawakal dalam aplikasinya merupakan muhasabah (evaluasi diri) bahwa inilah kita. Kita (Anda dan Kami) hanya seorang makhluk yang tiada memiliki daya kekuatan dan upaya kecuali kekuatan Tuhan. Bukankah konsep ini sepadan dengan beberapa tradisi lain seperti tradisi relaksasi, meditasi, reiki dan tradisi lain yang hasilnya jika kita praktekkan akan kita temukan jalan keluar dari permasalahan permasalah hidup kita. Contoh kecil dan sederhana ya! saat kita berusaha mencari barang kita yang “kita lupa menaruhnya”, dan kita tetap ngotot untuk mengingatnya, faktanya kita semakin “lupa” dimana kita menaruhnya. Namun jika kita mau sedikit tawakal, pasrah, dan rileks, hasilnya pasti lebih banyak ketemu-nya. Mungkin ada yang punya pengalaman yang sama?. Silahkan Anda buktikan, jangan memaksa untuk mengingatnya, rileks, santai dan lupakan barang Anda yang hilang, Anda akan menemui sebuah hal yang mustahal..

Kedua, Ikhlas. Falsafah lama yang sering dan mungkin kita “lupa” saat kita ditimpa masalah atau musibah. Dalam bahasa berbeda disebut “Legowo”, dalam bahasa yang populer disebut “Rapopo”. Ikhlas dalam pengertian seperti apa?. Apakah legowo atau “aku rapopo” kemudian duduk ndlohom berpangku tangan. Eitt..jangan salah sangka dulu. Ikhlas dalam pengertian bahwa kita menerima takdir Tuhan dengan hati yang lapang dada. Ah, itu khan teori? benar memang, tapi iklan yang ada ungkapan “ah, itu khan teori”, sepertinya sudah tidak tayang lagi. Kayaknya itu era tahun 90-an.

Maksud menerima takdir juga dalam pengertian positif lho. Ada, dan haq bahwa takdir Tuhan itu ada. Tapi, “bukankah Tuhan tidak mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mengubah nasibnya”. Bagaimana “clear”. Maksud saya bukan “clear” merk shampoo ya.

Ketiga, Sabar. Kita sering mendengar jika saudara saudara kita kena musibah, lalu dielus pundaknya “yang sabar mas, mbak, bu, pak ya”. Kata yang mudah diucapkan tapi sangat sulit dipraktekkan, termasuk jujur “Kami”. Tapi ya, bagaimana lagi to? kawan kita yang melihat keadaan kita kena musibah, memang punya kewajiban untuk share ke kita dengan ungkapan “sabar” tadi.

Sabar, bukankah ada kaidah dalam referensi Muslim  “mintalah pertolongan Tuhanmu dengan sabar dan Shalat”. Bukankah Tuhan bersama orang orang yang sabar. Bukankah ketika seseorang terkena musibah dan mengatakan “Sesungguhnya kita ini milik Allah dan akan kembali kepada Allah”.

Cuman, kadang ada yang menyela “sabar itu khan ada batasnya”. Masalahnya. Dalam hal apa dulu?, jika setiap hari Anda “ditempeleng” teman Anda lalu Anda diam. Ya, memang kurang tepat jika Anda diam, minimal Anda lari menjauh; atau ini-tidak kami sarankan, Anda membawa kawan kawan Anda yang lain untuk membalasnya. yach..malah jadi “berabe” semua. Konotasi sabar dalam hal ini berkaitan dengan masalah “jiwa” kita, dalam menghadapi musibah atau masalah masalah lain dalam kehidupan kita.

Jadi, salah besar! Jika Anda mengatakan sabar itu ada batasnya! Pikiran Anda-lah yang membatasi ke”sabar”an itu sendiri. Dan kawan Anda-lah yang mengompori Anda, jika sabar itu ada batasnya.

Keempat, Bersyukur. Bersyukur dalam pengertian yang bagaimana? bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita. Dalam hal ini pandangan mata “batin” kita, mesti ke “bawah”. Coba tengok saudara saudara kita yang belum se-beruntung kita. Baik dalam hal fisik, ekonomi maupun dalam bidang lain. Bukankah “siapa yang bersyukur Tuhan akan menambah nikmat-Nya kepada kita”. Tuhan telah memberikan kenikmatan kepada kita, tubuh kita, nafas kita, penglihatan kita, kesehatan kita dan jika kita menghitung hitung nikmat itu kita tidak akan mampu menghitungnya. Maka, marilah kita bersyukur atas segala nikmat yang telah Dia berikan kepada kita.

————————

Sekali lagi bahwa berani hidup tak takut hadapi masalah, takut masalah jangan hidup (yang terakhir tetap dalam pengertian positif ya, Ingak, Ingak!!). Bahwa begitulah kenyataan kehidupan yang semua orang akan mengalaminya. Jika yang mengalami semua orang berarti kita tanggung bersama, hanya mereka yang mau mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya, dan terus berusaha dan pantang menyerahlah yang akan memperoleh jalan keluar dari permasalahan kehidupan.

Kaidah terakhir “Siapa yang mau mendekatkan diri kepada Tuhan-Nya akan diberikan jalan keluar dan rejeki yang tiada disangka-nya”. Akhir kata, tiada maksud menggurui, hanya berbagi sedikit yang kami tahu, semoga bermanfaat bagi kami dan Anda. Mohon maaf atas segala kurang dan lebihnya. Salam sehat dan bahagia untuk Anda dan keluarga.  Tetap semangat