15 Terapi Sederhana Picky Eater! Agar Anak Tidak Pilih Pilih Makanan

Picky Eater secara sederhana adalah kondisi dimana anak anak suka memilah dan memilih makanan yang ia sukai. Picky Eater pada anak menyebabkan munculnya banyak problem, baik pada anak itu sendiri maupun pada orangtua. Picky Eater menjadikan seorang anak memiliki selera yang sangat rendah terhadap makanan yang disajikan pada mereka. Disisi lain, ketika si anak menemukan makanan yang ia sukai, maka ia akan berlebihan dalam mengkonsumsinya. Dan hal ini tentu saja akan berpengaruh besar terhadap kesehatan si anak. Picky Eater juga menyebabkan hubungan antara anak dan orang tua kurang harmonis.

Berdasarkan sebuah penelitian tentang Picky Eater yang bersumber dari (Chao 2018; Theresa et al.2017) menyebutkan bahwa dari 164 balita, 54% adalah “Picky”. Pada penelitian yang melibatkan 4.018 anak, pravalensi “Picky” 26.5% pada anak usia 18 bulan, 27.6% pada anak yang berusia 3 tahun. Kondisi ini menurun pada anak usia 6 tahun dengan prosentase 13.2%. Dari penelitian ini, menunjukkan bahwa ciri perilaku “Picky” merupakan hal yang wajar pada anak-anak pra sekolah.

Apa yang Menyebabkan Anak “Picky Eater”?

Kini pertanyaan yang diajukan oleh orangtua, khususnya ibu-ibu, apa yang menjadi sebab musabab seorang anak menjadi “Picky Eater”. Berikut penjelasannya. Hal pertama dan mendasarkan yang menyebabkan seorang anak menjadi “Picky” adalah “Pola Asuh” orangtua terhadap anak. Pola asuh yang dimaksud khususnya tentang penyajian makanan. Seperti, memaksa makanan tertentu pada anak, atau bahkan mengancam anak agar ia mau memakan makanan tertentu yang diberikan oleh orangtua.

(Theresa et al.2017) menyebutkan bahwa anak-anak yang tidak dipaksa makan, malah terbukti mengkonsumsi makanan dengan jumlah porsi yang lebih banyak dan menjadikan anak tidak mengomentari negatif terhadap makanan.

Disisi lain, akibat perilaku orangtua yang memiliki sensitifitas tinggi terhadap rasa makanan (Steinsbekk et al, 2017). Sangat mempengaruhi perilaku anak. Dan hal ini menyebabkan si anak juga mengalami tingkat sensitifitas yang tinggi juga terhadap rasa makanan (Theresa et al.2017).

Kesalahan lain yaitu menjadikan makanan tertentu sebagai hadiah untuk anak. Misal karena anak menangis, lantas orangtua akan memberikan hadiah berupa makananĀ  tertentu (yang enak), jika si anak berhenti menangis, maka orangtua akan memberikan hadiah makanan tertentu yang sangat disukai si anak. Faktor lain, yaitu pemberian camilan yang berlebihan dan juga pemberikan suplementasi.

Apa Akibatnya Jika Orangtua Tidak Mampu Mengontrol?

Kondisi “Picky” pada anak tentu saja akan memberikan dampak negatif terhadap perkembangan si anak, baik dari segi kesehatan maupun segi psikis si anak. Dari segi kesehatan, anak “Picky” akan kekurangan nutrisi dari jenis makanan tertentu yang tidak ia sukai.

Nutrisi yang sering dihindari oleh “Picky” dan paling umum adalah protein, zat besi, seng, serat dan vitamin D (Theresa et al.2017). Selain kekurangan nutrisi diatas, anak yang “Picky” memiliki kondisi fisik yang lemah, immunitas (kekebalan) tubuhnya rendah, susah Buang Air Besar (BAB) dan mudah sekali terserang penyakit.

Dampak paling ekstrim jangka panjang pada anak yang “Picky” yaitu menjadikan si anak mengalami pertumbuhan yang buruk dari waktu ke waktu, dan secara fisik menjadi kurus dan lemah. Tetapi sebaliknya juga, dengan anak yang “Picky” terhadap makanan tertentu akan mengalami kelebihan berat badan (obesitas).

Lantas, Bagaimana Solusinya?

Ada beberapa solusi yang ditawarkan dalam mengubah pola perilaku “Picky Eater” agar anak-anak tidak pilih pilih makanan.

Hal paling prinsip dan mendasar sebagai solusi adalah mengubah pola pengasuhan terhadap anak, karena pola asuh yang salah mempengaruhi semua jenis perilaku pada anak. Termasuk anak anak suka memilih milih makanan tertentu yang ia sukai.

Cara Pengasuhan Anak Terhadap Makanan

Pertama-tama dari orangtua. Orangtua (bapak dan Ibu) merupakan contoh dan teladan anak dalam hal perilaku termasuk cara pandang terhadap makanan. Apa yang orangtua konsumsi, pemilihan makanan dan cara menikmati makanan, menjadi hal yang dicontoh oleh anak-anak mereka. Oleh karena itu terkait dengan pengasuhan anak terhadap perilaku makan, berikut penjesannya.

  1. Bangun interaksi kepada anak, saat makan untuk membangun hubungan psikologis anak
  2. Berikan penjelasan sesering mungkin terhadap setiap makanan yang Anda sajikan
  3. Sajikan makanan yang sehat dan penuh gizi
  4. Hindari membeli makanan yang tidak sehat dan cepat saji
  5. Jangan memberikan contoh kepada anak dengan tidak menyukai makanan tertentu di depan mereka
  6. Jangan berasumsi terhadap pendapat pribadi, bahwa anak Anda tidak menyukai makanan tertentu
  7. Perkenalkan makanan yang bervariasi dalam menu makanan keluarga
  8. Ajak anak anak untuk mencoba makanan yang baru untuk meningkatkan variasi selera makananan si anak
  9. Hindari pola pikir bahwa makanan tertentus sebagai hadiah (reward)
  10. Tanamkan pola pikir bahwa makanan yang bergizi sangat dibutuhkan oleh mereka
  11. Buat suasana makan bersama yang mengenakkan
  12. Ajarkan untuk berhenti makan saat sebelum kenyang
  13. Matikan Televisi saat makan
  14. Jauhkan gadget saat sedang menikmati makanan
  15. Berikan peran pada anak saat berbelanja makanan di luar rumah

Tips dan Trik Khusus Agar Anak Tidak Pilih Pilih Makanan

Berikut tips dan trik khusus agar anak anak tidak pilih pilih makanan tertentu. Dengan memahami tips ini diharapkan kebutuhan dasar anak yaitu berupa nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangannya dapat terpenuhi. Dengan trik ini pula akan membantu menjadikan hubungan psikis antara orangtua dan anak akan semakin harmonis menuju keluarga sehat dan bahagia sejahtera.

  1. Sajikan makanan yang Anda berikan kepada anak-anak Anda dalam bentuk yang menarik. Kata “menarik” tidak lantas makanan yang Anda sajikan dengan nilai mahal atau mewah. Simpelnya menarik, penuh gizi dan enak.
  2. Sajikan jenis makanan baru dengan menyertakan makanan sebelumnya yang ia sukai. Misalnya, jika Anda akan memperkenalkan jenis sayur, sementara anak Anda sangat menyukai jenis makanan “Tahu Goreng”, maka Anda dapat mengkombinasikan “Tahu Goreng” dengan isi sayur.
  3. Berikan makanan yang bisa digenggam oleh tangan si anak (fingers foods). Misal, pisang, biskuit, atau bahkan sayuran yang telah dikukus. Selain praktis, karena si anak dapat menggenggamnya sendiri, hal ini juga akan melatih Anda makan secara mandiri.
  4. Sebelum Anda memberikan makanan utama yang penuh gizi, jangan memberikan makanan berupa cemilan atau makanan ringan lainnya. Begitu juga, jangan memberikan susu sebelum si anak mengkonsumsi makanan utama. Dengan menghindari pemberian cemilan atau susu, maka makanan utama yang akan Anda berikan dapat dihabiskan.
  5. Hindari menyajikan makanan yang mengandung lemak tinggi, pemanis buatan dan juga makanan yang mengandung penyedap rasa berlebihan. Hal ini maksudkan agar anak Anda tidak mempunyai sensitifitas rasa yang tinggi terhadap makanan.
  6. Dalam teori Palfreyman et al 2015 disebutkan bahwa anak-anak membutuhkan waktu hingga 15 kali penjelasan tentang sebuah makanan, sebelum makanan itu disukai anak. Dan dibutuhkan waktu pengulangan hingga 10 sampai 15 kali terhadap menu makanan tertentu hingga si anak menyukai makanan tersebut. (Berbagai sumber)

Demikian semoga bermanfaat untuk Anda. Salam sehat dan bahagia, Tetap Semangat!